Sebagai seorang muslim, kita hendaknya bangga memiliki tokoh sains terkemuka. Untuk itu, perlu kita tahu siapakah tokoh-tokoh itu?
1. Ibnu Haitam, Bapak Optik
Nama
lengkapknya Abu Ali Hasan al-Haitam atau Ibnu Haitam. Ia membuat banyak
penemuan di bidang fisika dan optika yang bermanfaat untuk kehidupan
manusia. Di dunia barat, ia lebih dikenal dengan sebutan Alhazen atau
bapak optik.
Ibnu
Haitam lahir di Basra, Irak tahun 956. Ia terus giat menimba ilmu
hingga menjadi ilmuwan terkenal. Ibnu Haitam sempat menjalani profesi
sebagai pegawai pemerintahan. Namun, ia tidak betah karena ingin
mengembangkan pengetahuan di bidang, fisika, optik, matematika dan
lainnya.
Haitam
pun berhenti dari pekerjaannya. Ia pergi ke Spanyol, tempat yang
dikenal sebagai peradaban ilmu pengetahuan Eropa di masa itu. Di sana,ia
tertarik mempelajari optika hingga membuat namanya semakin dikenal.
Penemuan Haitam di bidang optika yang terkenal adalah “hukum refraksi”.
Hukum tersebut merupaan hukum fisika yang menyatakan bahwa sudut refleksi dalam pancaran cahaya sama dengan sudut masuk.
Ibnu
Haitam juga berhasil menemukan sebuah Teori Penglihatan Manusia. Ia
menolak teori Ptolemaeus dan Euclides yang mengatakan bahwa manusia
melihat benda melalui pancaran cahaya yang keluar dari matanya. Menurut
Haitam, bukan mata yang memberikan cahaya justru benda yang terlihat
itulah yang memantulkan cahaya ke mata manusia.
Ibnu
Haitam juga memberikan sumbangan besar bagi dunia ilmu pengetahuan
moderen. Tak hanya tentang optika tapi juga mengenai
astronomi. Pendapatnya di bidang astronomi tentang lapisan atmosfer dan
perkiraanya mengenai jarak matahari dengan benda-benda angkasa lainnya
dipercaya mempercepat temuan-temuan ilmuwan Barat tentang kosmologi
moderen.
2. Ibnu Sina, Raja Obat
Saat
usianya 5 tahun, Ibnu Sina sudah menghafal Al-Quran. Sejak kecil, ia
memang telah memperlihat sebagai sosok yang cerdas dan jenius.
Semangat
belajar dan mencari ilmu pengetahuan adalah salah satu karakter yang
terlihat jelas dari ilmuwan bernama lengkap Abu Ali al-Husain bin
Abdullah.
Begitu
jeniusnya tokoh yang satu ini, sampai-sampai guru di sekolahnya pun
meminta pada ayah Ibnu Sina agar ia berhenti dari sekolah dan belajar
sendiri secara otodidak.
Gurunya
yakin, jika Ibnu Sina punya lebih banyak waktu untuk belajar sendiri,
ia akan tumbuh menjadi manusia yang lebih hebat dan bermanfaat bagi ilmu
pengetahuan.
Wah,
apa yang disarankan guru Ibnu Sina itu pun terbukti! Ia banyak belajar
dari berbagai buku tentang matematika, agama, metafisika hingga
kedokteran. Ia sangat menyukai dunia kedokteran. Alhasil di usia 16
tahun, ia berhasil menguasai ilmu kedokteran dan mulai praktek sebagai
dokter ketika berusia 18 tahun.
Kehebatan
Ibnu Sina pun kian terdengar dan dikenal sebagai dokter di Bukhara.
Suatu hari, seorang penguasa Dinasti Samaniah, Nuh bin Mansur yang
tengah sakit keras mengundangnya ke istana.
Nuh
meminta Ibnu Sina untuk mengobatinya. Ia pun berhasil! Akhirnya, Ibnu
Sina diangkat menjadi dokter istana. Orang-orang yang datang berobat
padanya semakin banyak.
Petinggi
negara lain pun berhasil disembuhkan, speerti Ratu Sayyidah, Sultan
Majdud dari Rayy, Syamsu Dawla dari Hamdan dan masih banyak lagi. Karena
keahliannya di bidang kedokteran, ia dijuluki Raja Obat.
3. Al Farabi, Kepandaiannya Melebihi Aristoteles
Nama
lengkapnya adalah Abu Nasr Muhammad bin Muhammad bin Tarkhan bin Uzlag
al-Farabi. Ia dilahirkan pada 870 M di Desa Wasiji, Transoxiana. Sejak
kecil, al Farabi dikenal sebagai anak yang cerdas.
Ketika
dewasa, ia pindah ke Baghdad dan memperdalam berbagai macam ilmu,
antara lain filsafat, logika, matematika, ilmu politik, dan musik.
Dari Baghdad, ia lalu pindah ke Harran (Iran) dan belajar filsafat Yunani setelah itu, ia kembali lagi ke Baghdad.
Al-Farabi mencerminkan sifat guru sejati yang diidealkan pada saat itu. Sekalipun ia tinggal di istana, hidupnya sederhana.
Sebagian
besar waktunya digunakan untuk mengkaji ilmu dan menulis. Ratusan karya
telah dihasilkannya antara lain buku berjudul Intisari Buku
Metafisika. Di samping itu, ia juga terus menghabiskan waktunya untuk
mengajar.
Dia juga
adalah tokoh yang pertama kali memasukkan ilmu logika ke dalam
kebudayaan Arab. Kepandaiannya di bidang ini jauh melebihi Aristoteles
4. Abul Wafa, Penemu Rumus Dasar Trigonometri
Matematika
bukanlah hal yang sulit tapi menyenangkan bagi ilmuwan muslim bernama
Abul Wafa. Bahkan matematika juga yang membuat namanya dikenal di dunia
Barat. Abul Wafa adalah seorang ilmuwan serba bisa.
Selain jago di bidang matematika, ia pun terkenal sebagai insinyur dan astronom terkenal pada zamannya.
Ia
terlahir di Buzjan, Khurasan (Iran) pada tanggal 10 Juni 940/328H. Ia
belajar matematika dari pamannya, Abu Umar al Maghazali dan Abu Muhammad
Ibn Ataba. Salah satu peran terbesar Abul Wafa dalam Matematika adalah
menemukan rumus dasar Trigonometri.
Trigonometri
berasal dari kata trigonon yang artinya tiga sudut dan metro;
mengukur. Ilmu tersebut merupakan cabang matematika yang berhadapan
dengan sudut segi tiga dan fungsi trigonometrik seperti sinus, cosinus
dan tangen.
Rumus-rumus
yang dihasilkan oleh Abul Wafa, hingga kini masih
bertahan. Kemampuannya menciptakan rumus-rumus baru matematika
membuktikan bahwa Abul Wafa adalah seorang ahli matematika yang jenius!
Pantas,
jika ilmuwan Islam ini dianggap sebagai orang jenius. Pengetahuannya
begitu luas, termasuk dalam bidang astronomi. Karena kemampuannya
itulah, Organisasi Astronomi Internasional (IAU) pun mengabadikan
namanya di kawah bulan!
Abul
Wafa menjadi salah satu dari 24 ilmuwan Islam yang namanya diabadikan
tanpa menggunakan nama barat. Jadi, nama yang tertulis di kawah bulan
itu benar-benar nama aslinya, Abul Wafa. Lokasi kawah bulan bertuliskan
nama Abul Wafa ada di dekat ekuator bulan. Letaknya berdekatan dengan
sepasang kawah Ctesibius dan Heron di sebelah timur. Begitulah
dunia astronomi moderen mengakui jasanya sebagai seorang astronom di
abad ke-10.
5. Ibnu Khaldun, Bapak Sosiologi Dunia
Tokoh
ini tercatat sebagai penemu ilmu sosial khususnya sosiologi. Ibnu
Khaldun yang memiliki nama panjang, Waliuddin Abdurrahman bin Muhammad
bin Abi Bakar Muhammad bin al-Hasan ini lahir di bulan Ramadhan,
tepatnya 1 Ramadhan 732 (27 Mei 1332) di Tunisia. Di tanah kelahirannya
itu, ia tertarik mempelajari berbagai ilmu seperti syariat, bahasa,
fisika, dan matematika.
Al
quran pun sudah dihapalnya sedari kecil. Sejak kecil pula, ia sudah
tertarik mengikuti kegiatan politik.Bahkan ketika ia mulai tumbuh
dewasa, beberapa dinasti kecil sudah memberikannnya jabatan penting di
kalangan pemerintahan.
Namun,
kemudian ia sebagai sejarawan dan ahli filsafat Islam lebih memilih
untuk memberikan perhatian pada kegiatan menulis dan mengajar.
Namun
pendidikannya sempat terhenti karena penyakit pes telah melanda selatan
Afrika pada tahun 749 H. Penyakit itu merenggut ribuan nyawa termasuk
ayahnya dan sebagian besar gurunya. Beberapa karya hebatnya telah
dikenal dunia. Ia pun dijuluki sebagai Bapak Sosiologi Dunia.
Salah
satu karyanya, kitab al-‘ibar (tujuh jilid) ini pernah diterjemahkan
dan diterbitkan oleh De Slane pada tahun 1863, dengan judul Les
Prolegomenes d’Ibn Khaldoun . Kitab ini ini pun dijadikan dasar dalam
ilmu sosiologi oleh sosiolog-sosiolog German dan Austria yang memberikan
pencerahan bagi para sosiolog modern di tahun 1890.
Karya-karya
lain Ibnu Khaldun yang bernilai sangat tinggi diantaranya, at-Ta’riif
bi Ibn Khaldun (sebuah kitab autobiografi, catatan dari kitab
sejarahnya); Muqaddimah (pendahuluan atas kitabu al-‘ibar yang bercorak
sosiologis-historis, dan filosofis). Isi Muqadimmah ini adalah
pembahasan tentang ilmu sosial dan politik, dasar-dasar pembangunan
masyarakat, dan pembidangan ilmu pengetahuan.
6. Al Khawarizmi, Penemu Ilmu Al Jabar
Tokoh
yang bernama lengkap Abu Ja’far Muhammad bin Musa Al-Khawarizmi
(780-846 M) ini merupakan ilmuwan muslim yang banyak menyumbangkan
karyanya di bidang matematika, geografi, musik, dan sejarah. Dia adalah
penemu aljabar.Dari namanyalah istilah algoritma diambil.
Beliau lahir di Khawarizmi, Uzbeikistan, pada tahun 194 H/780 M. Sedari kecil, beliau sudah menyukai pelajaran Matematika.
Kesukaan
ini terus berlanjut sampai akhirnya bisa menciptakan dua karya di
bidang matematikan yaitu, Hisab al-Jabr wa al-Muqabla (Pengutuhan
Kembali dan Pembandingan) dan Al-Jama’ wa at-Tafriq bi Hisab al-Hind
(Menambah dan Mengurangi dalam Matematika Hindu)
Kedua
karya tersebut banyak menjelaskan tentang persamaan linier dan kuadrat;
penghitungan dan persamaan dengan 800 contoh yang berbeda; juga
tanda-tanda negatif yang sebelumnya belum dikenal oleh bangsa Arab.
Dalam
karya Al-Jama’ wa at-Tafriq, Al-Khawarizmi juga menjelaskan tentang
kegunaan angka-angka, termasuk angka nol dalam kehidupan sehari-hari.
Sang ilmuwan ini pun dipercaya sebagai penemu angka nol.
Selain
matematika, Al-Khawarizmi juga dikenal sebagai astronom. Di bawah
Khalifah Ma’mun, sebuah tim astronom yang dipimpinnya berhasil
menentukan ukuran dan bentuk bundaran bumi. Penelitian ini dilakukan di
Sanjar dan Palmyra. Hasilnya, selisih 2,877 kaki dari ukuran garis
tengah bumi yang sebenarnya. Sebuah perhitungan luar biasa yang dapat
dilakukan pada saat itu.
7. Al Jazari, Bapak Robot
Islam sudah mengenal kemajuan teknologi Islam sejak abad ke-13 M.
Hal itu dibuktikan dengan terciptanya sebuah mesin robot dari tangan seorang bernama Al Jazari.
Beliau
adalah ilmuwan Islam cerdas berasal dari sebelah Utara Mesopotamia,
yaitu kawasan di utara Irak dan timur laut Syiria.Tidak hanya itu, tokoh
ini juga mampu menciptakan robot yang mirip manusia.
Kemampuan
beliau ini lebih dulu unggul dibandingkan tokoh barat, Leonardo Da
Vinci yang baru merancang pembuatan robot pada 1478. Karena itulah, Al
Jazari pun dijuluki sebagai “Bapak Robot”
Salah
satu mesin robot terkenal buatan Al Jazari adalah mesin yang berbentuk
sebuah perahu. Perahu itu terapung di sebuah danau dan ditumpangi empat
robot pemain musik.
Masing-masing
robot pemain musik punya tugas penting. Ada yang berperan sebagai
penabuh drum sebanyak dua orang. Ada juga yang meniup harpa dan suling.
Mereka semua itu diciptakan untuk menghibur para tamu kerajaan dalam acara jamuan minum.
Sebagai robot pemain musik, tentu saja, mereka pun ahli menghasilkan suara musik yang indah.
Penemuan
penting lainnya dari ilmuwan yang bernama lengkap Ibnu Al Jazari adalah
pencuci tangan otomatis. Keran yang otomatis keluar air tanpa harus
diputar, berkat penemuan bapak robot inilah cara kerja keran otmatis itu
hingga saat ini. Sistem pencuci tangan yang dikembangkan Al Jazari itu
juga digunakan saat ini dalam sistem kerja toilet moderen. Robot ini
berbentuk seorang wanita yang berdiri dengan sebuah baskom terisi air.







Komentar
Posting Komentar