Islam
adalah agama keselamatan, agama yang haq. Islam merupakan agama samawi
yang diturunkan ke dunia untuk menjadi pedoman hidup manusia. Islam
menuntun pemeluknya untuk selamat dalam menjalani hidup di dunia dan
juga di akhirat. Islam adalah agama yang kebenarannya tak terbantahkan.
Di
Indonesia, mayoritas penduduknya beragama Islam. Namun meski memeluk
Islam, sudahkah kita pastikan bahwa kita benar-benar sudah mengislamkan
diri? Atau Islam kita jangan-jangan masih wujud di kolom KTP saja? Ayo
sama-sama kita cek kembali.
Pertama: Pastikan Kita Islam Karena Kesadaran, Bukan Keturunan
Islam
adalah agama kesadaran. Bukan agama lebel semata. Memeluk Islam artinya
meyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah dan tunduk terhadap aturannya.
Kita
yang terlahir dari keluarga muslim hampir pasti memeluk agama Islam.
Islam yang semacam ini, adalah Islam yang didapat karena keturunan.
Namun meskipun mendapatkan Islam dari keturunan, kita tidak boleh jadi
“Islam Keturunan”.
Jangan sampai pradikat Islam keturunan terus melekat. Kita harus memeluk Islam dengan penuh kesadaran. Islamkan diri kita.
Islam
tidak cukup dengan hanyapengakuan, namun mengabaikan ajarannya. Harus
ada pembuktian dengan melaksanakan perintah Allah, dan menjauhi
larangan. Sehingga lebel Islam tidak hanya tercantum di KTP, namun juga
didalam diri kita.
Untuk itu tentu kita harus mempelajari ilmunya. Agar kita beribadah dengan ilmu. Karena beribadah tanpa ilmu akan tertolak.
Bila belum tau ilmu agama, mari belajar dengan penuh kesadaran. Jangan karena sudah tua kemudian enggan.
Tak
ada batas usia dalam kamus menuntut ilmu. Jangan malu karena usia sudah
senja. Malulah kepada Allah karena beribadah tanpa ilmu. Beribadah
hanya karena ikut-ikutan, tanpa tahu ilmunya.
Memang
kita tentu bersyukur terlahir dari keluarga Islam. Namun jangan sampai
kita mengaku Islam namun tak tau apa ajarannya dan kemudian
mengamalkannya.
Harus
kita ingat, bahwa Islam bukanlah agama keturunan. Islam dipeluk bukan
karena nenek moyang. Tapi Islam adalah agama kesadaran, dipeluk karena
kebenarannya yang hakiki.
Cek: Apakah kita sudah memeluk Islam karena kesadaran?
Cek: Apakah kita sudah mempelajari Islam dengan benar?
Cek: Apakah kita sudah secara sadar beribadah sesuai tuntunan, bukan ikut-ikutan?
Kedua: Pastikan Kita Tunaikan Segala Kewajiban
Untuk
menjadi muslim tentu kita harus melaksanakan kewajiban agama. Kewajiban
agama mutlak untuk dilaksanakan. Tiada boleh ditinggalkan karena malas.
Apalagi sampai meremehkan.
Diantaranya
Shalat. Shalat lima waktu harus kita tunaikan. Tak boleh tinggal.
Apalagi sampai menganggap itu bukan kewajiban. Bahaya! Nauzubillah.
Shalat
adalah ibadan sepsial. Ibadah pertama yang akan dihisab di akhirat
kelak. Oleh karena itu kita harus laksanakan shalat dengan baik dan
benar sesuai tuntunan. Ingat jangan pernah tinggal!
Cek: Apakah kita sudah melaksanakan Shalat lima waktu tanpa pernah tinggal?
Jika kita saat ini masih meninggalkan shalat, mulai sekarang ,ayo bertaubat. Kita tunaikan kewajiban itu dengan disiplin.
Karena
taklah disebut seorang itu Islam kalau tak Shalat. Jangan pernah
mengaku Islam kalau shalat masih terabaikan dan berantakan. Pasalnya
shalat adalah rukun keislaman. Mengabaikan shalat berarti meninggalkan
rukun Islam. Bila sudah demikian tidaklah sah keislaman seseorang.
Begitu
juga dengan kewajiban-kewajiban ubudiyah lain dalam Islam. Misalnya
Zakat, Puasa di Bulan Ramadhan dan Haji bagi yang mampu. Untuk lebih
jauh mengetahui kewajiban dalam beragama kita haruslah mempelajari
Islam. Bagaimana kita mau melaksanakan kewajiban, bila tidak tau apa
saja kewajiban kita sebagai muslim.
Cek: Apakah kita tahu kewajiban sebagai seorang muslim?
Cek: Apakah kita sudah menjalankan kewajiban-kewajibn itu?
3. Pastikan Kita Terhindar dari Syirik
Islam
adalah agama ketauhidan, mengesakan Allah. Tidak ada Yang Maha Besar
dan Maha Kuasa selain Allah. Dialah pemilik langit dan bumi serta alam
seisinya.
Tiada
kekuatan selain dari Allah. Segala sesuatu tidak ada yang bisa memberi
manfaat maupun mudarat, selain atas kehendak Allah. Gantungkan segala
sesuatunya kepada Allah. Mintalah hanya kepada Allah. Berlindunglah
kepada Allah. Lakukan semua karena Allah. Karena Allah yang mengatur
segalanya.
Luruskan
ketauhidan. Jauhkan kita dari kesyirikan. Tinggalkanlah budaya dan
tradisi bila hanya menjerumuskan pada kemusyrikan. Sehingga saat ajal
menjemput, kalimat terakhir yang terucap adalah kalimat tauhid.
Cek: Sudahkah kita menghindari kesyirikan?
Saudaraku
yang budiman. Masih banyak lagi yang harus di cek. Penulis tak dapat
menguraikan satu-persatu. Namun secara garis besarnya demikin. Semoga
bermanfaat. Waulohua’lamu*

Komentar
Posting Komentar